Subscribe:

Subscribe now!

Get our latest posts in your email for free.

Tampilkan postingan dengan label skripsi ekonomi gratis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label skripsi ekonomi gratis. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 November 2012

Ekonomi : Transisi Menuju IFRS dan Dampaknya terhadap Laporan Keuangan

Kata Kunci Pencarian :

Skripsi, Download Skripsi, Contoh Skripsi, Judul Skripsi, Proposal Skripsi, Tugas Akhir, Tesis Gratis, Skripsi Lengkap, Program Skripsi

Copyright : skripsidownloadgratis.blogspot.com

DI BAWAH INI ADALAH BAB I DARI CONTOH KUMPULAN SKRIPSI LENGKAP Transisi Menuju IFRS dan Dampaknya terhadap Laporan Keuangan, UNTUK MENDAPATKAN JUDUL, TESIS, PROPOSAL, TUGAS AKHIR DAN EKONOMI LAINNYA BISA ANDA LIHAT DISINI 

Pengungkapan dan penyajian informasi merupakan suatu upaya fundamental untuk menyediakan informasi mengenai laporan keuangan bagi pengguna laporan keuangan. Dalam pengungkapan dan penyajian informasi tersebut dibutuhkan sebuah aturan atau standar. Standar akuntansi secara umum diterima sebagai aturan baku, yang didukung oleh sanksi-sanksi untuk setiap ketidakpatuhan. Standar akuntansi yang berkualitas terdiri dari prinsip-prinsip komprehensif yang netral, konsisten, sebanding, relevan dan dapat diandalkan yang berguna bagi investor, kreditor dan pihak lain untuk membuat keputusan alokasi modal. Permasalahan akan kebutuhan standar yang berkualitas tersebut menuntun akan pengadopsian IFRS (International Financial Reporting Standard) yang berdasar atas adanya peningkatan kualitas akuntansi dan keseragaman standar internasional. 

IFRS merupakan jawaban atas permasalahan akan kredibilitas dan transparansi pelaporan keuangan yang harus lebih ditingkatkan. Permasalahan ini terlihat dari krisis keuangan yang dilanda beberapa negara-negara Asia pada tahun 1997 krisis ini disebut dengan “financial meltdown” yang secara langsung mempengaruhi Thailand, Malaysia, Korea Selatan, Indonesia, Hongkong, Singapura serta terjadinya goncangan yang besar pada tahun 2001 yakni Enron merestatement laporan keuangan karena adanya accounting error. Masalah ini telah membuat dunia mempertanyakan standar akuntansi yang lebih baik yang bisa menghasilkan informasi keuangan yang dapat dipercaya.

IFRS (Internasional Financial Accounting Standard) adalah suatu upaya untuk memperkuat arsitektur keungan global dan mencari solusi jangka panjang terhadap kurangnya transparansi informasi keuangan. Tujuan IFRS adalah memastikan bahwa laporan keuangan interim perusahaan untuk periode-periode yang dimaksudkan dalam laporan keuangan tahunan, mengandung informasi berkualitas tinggi yang: (1) Menghasilkan transparansi bagi para pengguna dan dapat dibandingkan sepanjang periode yang disajikan, (2) Menyediakan titik awal yang memadai untuk akuntansi yang berdasarkan pada IFRS, (3) Dapat dihasilkan dengan biaya yang tidak melebihi manfaat untuk para pengguna.

Pengadopsian standar akuntansi internasional ke dalam standar akuntansi domestik bertujuan menghasilkan laporan keuangan yang memiliki tingkat kredibilitas tinggi. IFRS meminta persyaratan akan item-item pengungkapan yang semakin tinggi sehingga nilai perusahaan akan semakin tinggi pula, manajemen akan memiliki tingkat akuntabilitas tinggi dalam menjalankan perusahaan. Laporan keuangan perusahaan menghasilkan informasi yang lebih relevan dan akurat, dan dapat diperbandingkan dan menghasilkan informasi yang valid untuk aktiva, hutang, ekuitas, pendapatan dan beban perusahaan.

Pengadopsian terhadap IFRS berdampak pada aspek-aspek pengukuran item pelaporan keuangan seperti net income dan equity serta penelitian Daske dan Gunther (2006) menyatakan bahwa pengapdopsian IFRS meningkatkan kualitas financial statement. Butler et al. (2004) mengatakan bahwa earning management pada laporan keuangan dapat diidentifikasi dengan menggunakan rasio kunci yakni seperti gearing dan likuiditas, dan penerapan standar IFRS pada item laporan keuangan ini dapat mengurangi tingkat earning management. Tsalavoutas dan Evans (2010) juga menyatakan bahwa pengapdopsian IFRS berpengaruh signifikan terhadap share holder equity, net income dan liquidity. Peningkatan informasi akuntansi juga berhubungan dengan pihak yang melakukan pemeriksaan terhadap informasi tersebut, pihak yang akan mengidentifikasi setiap kecurangan yang terjadi pada laporan keuangan. Pihak itu adalah profesi akuntan publik.

Password: tyoP9P1r


READ MORE : Ekonomi : Transisi Menuju IFRS dan Dampaknya terhadap Laporan Keuangan

Senin, 23 Juli 2012

File Skripsi Ekonomi : Analisis strategi pemasaran produk Telkomsel pada CV. AXXESINDO Bandar Lampung tahun 2009


DI BAWAH INI ADALAH KUMPULAN SKRIPSI LENGKAP EKONOMI, UNTUK MENDAPATKAN JUDUL, TESIS, PROPOSAL, TUGAS AKHIR DAN SKRIPSI EKONOMI LAINNYA BISA ANDA LIHAT DISINI 

Pemasaran adalah suatu proses sosial yang didalamnya individu dan kelompok-kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan secara bebas mempertukarkan produk yang bernilai dengan pihak lain, suatu kegiatan yang menggerakkan aliran barang dan jasa dari produsen kepada konsumen atau pemakai. Pemasaran dapat berjalan dengan sempurna apabila kegiatan usaha dapat berjalan dengan baik sehingga barang dan jasa dapat memuaskan konsumen yang ada maupun konsumen yang potensial. Perusahaan yang mampu meningkatkan penjualan maka akan memungkinkan memperbesar atau meningkatkan jumlah keuntungan sekaligus efesiensi perusahaan dapat tercapai. 

Penerapan suatu konsep pemasaran dalam suatu perusahaan harus diutamakan karena dalam hal ini sangat penting untuk dilakukan. Perusahaan harus dapat mempelajari dan memperhatikan sikap para konsumen atau pembeli barang yang diproduksi sesuai dengan keinginan pembeli itu sendiri dan melakukan pelayanan dengan sebaik mungkin. Dalam setiap melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan diperlukan strategi demikian juga dalam hal pemasaran diperlukan sebuah strategi pemasaran. Telepon selular atau yang biasa kita kenal dengan ponsel adalah salah satu piranti telekomunikasi yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat dalam berkomunikasi secara bergerak.

Salah satu penyedia jasa telekomunikasi terkemuka yang ada di Indonesia yaitu Telkomsel, perusahaan ini merupakan pelopor penyedia saluran telekomunikasi. PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk. adalah Perusahaan Informasi dan Komunikasi serta penyedia jasa dan jaringan telekomunikasi secara lengkap di Indonesia yang pada awalnya dikenal sebagai sebuah badan usaha swasta penyedia layanan pos dan telegrap atau dengan nama “Jawatan” pada tahun 1961 status Jawatan diubah menjadi Perusahaan Negara Pos dan Telekomunikasi (PN Postel), PN Postel di pecah menjadi Perusahaan Negara Pos dan Giro (PN Pos dan Giro), dan Perusahaan Negara Telekomunikasi (PN Telekomunikasi) dan pada tahun 1974 PT. Telekomunikasi disesuaikan menjadi Perusahaan Umum Telekomunikasi (Perumtel) yang menyelenggarakan jasa telekomunikasi Nasional maupun Internasional. Pada tanggal 14 November 1995 diresmikan PT. Telekomunikasi Indonesia sebagai nama Perusahaan Telekomunikasi terbesar di Indonesia.

Telkom merupakan salah satu BUMN yang sahamnya saat ini dimiliki oleh Pemerintah Indonesia (51,99%) dan oleh publik sebesar (48,81%), dari jumlah tersebut yang dimiliki oleh investor asing sebesar (45,58%) dan sisanya (3,23%) oleh investor dalam negeri. Telkom juga menjadi pemegang sahan mayoritas di 9 anak perusahaan, termasuk PT. Telekomunikasi Selular (Telkomsel). CV. AXXESINDO Bandar Lampung merupakan sebuah perusahaan jasa dibidang Telkomunikasi yang berusaha memberikan kemudahan bagi konsumen untuk menikmati berbagai layanan yang ada.

Dalam sistem pemasarannya CV. AXXESINDO menggunakan startegi pemasaran dengan menyediakan kelengkapan voucer, harga yang kompetitif, fasilitas tempat yang nyaman dan strategis serta kesediaan barang yang cukup melalui pendistribusian yang lancar dengan harapan apa yang menjadi tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai. Kegiatan pemasaran mempunyai peranan penting, bukan hanya sekedar penyampaian arus barang dan jasa dari produsen ke konsumen, tetapi juga bertujuan untuk meningkatkan volume penjulan dimasa yang akan datang.


Password: z3dSdT32


READ MORE : File Skripsi Ekonomi : Analisis strategi pemasaran produk Telkomsel pada CV. AXXESINDO Bandar Lampung tahun 2009

File Skripsi Ekonomi : Pengaruh reputasi dan kualitas auditor terhadap opini Audit Going Concern


DI BAWAH INI ADALAH KUMPULAN SKRIPSI LENGKAP EKONOMI, UNTUK MENDAPATKAN JUDUL, TESIS, PROPOSAL, TUGAS AKHIR DAN SKRIPSI EKONOMI LAINNYA BISA ANDA LIHAT DISINI 

Perusahaan audit memiliki reputasi lebih baik dari orang lain dan untuk mempertimbangkan bagaimana reputasi tersebut dapat berhubungan dengan kualitas jasa audit yang disediakan. Pengetahuan tentang apakah semua audit yang dianggap memiliki kualitas yang sama harus bernilai bagi pengguna laporan keuangan yang diaudit dan audit badan pengaturan standar. Masalah jasa audit dibedakan adalah satu kontroversial untuk akuntansi profesional badan yang secara tradisional berpendapat bahwa audit oleh salah satu anggota mereka harus kualitas yang sama seperti anggota lainnya. 

Hubungan antara reputasi sebuah perusahaan audit dan kualitas pekerjaan audit yang disediakan oleh teoretisi ekonomi seperti Klein dan Leffler (1981) dan Shapiro (1983). Inti dari argumen mereka adalah bahwa perusahaan individual memiliki insentif ekonomi untuk menanggung biaya rata- rata di atas untuk menghasilkan pelayanan yang berkualitas di atas rata-rata, karena konsumen akhirnya akan menyadari hal ini peningkatan mutu dan siap untuk membayar biaya yang lebih tinggi untuk menerimanya. Oleh karena itu, dalam model ini, biaya bahwa perusahaan dapat memperoleh ditentukan oleh reputasi yang mereka miliki dengan konsumen.

Auditor adalah seseorang yang menyatakan pendapat atas kewajaran dalam semua hal yang material, posisi keuangan hasil usaha dan arus kas yang sesuai dengan prisip akuntansi berlaku umum di Indonesia (Arens, 1995). Ditinjau dari sudut profesi akuntan publik, auditor adalah pemeriksaan (examination) secara objektif atas laporan keuangan suatu perusahaan atau organisasi lain dengan tujuan untuk menentukan apakah laporan keuangan tersebut menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan dan hasil usaha perusahaan atau organisasi tersebut (Mulyadi, 2002).

Teori signaling memberikan indikasi bahwa perusahaan akan memilih auditor berkualitas tinggi untuk menunjukkan kinerja superior mereka. Menurut Scott, (2001), manajer yang rasional tidak akan memilih auditor berkualitas tinggi dan membayar fee yang tinggi apabila karakteristik perusahaan tidak bagus. Argumen ini didasari anggapan bahwa auditor berkualitas tinggi akan mampu mendeteksi karakteristik perusahaan yang tidak bagus dan menyampaikannya kepada publik. Selain memberikan opini audit atas laporan keuangan, mengenai kewajarannya auditor juga bertanggungjawab untuk menilai apakah terdapat kesangsian besar terhadap kemampuan perusahaan dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya (going concern) dalam periode waktu tidak lebih dari satu tahun sejak tanggal laporan audit (SPAP 2004).

Reputasi auditor didasarkan pada kepercayaan pemakai jasa auditor bahwa auditor memiliki kekuatan monitoring yang secara umum tidak dapat diamati. DeAngelo (1981) menyatakan bahwa auditor skala besar memiliki insentif yang lebih untuk menghindari kritikan kerusakan reputasi dibandingkan pada auditor skala kecil. Auditor skala besar juga lebih cenderung untuk mengungkapkan masalah -masalah yang ada karena mereka lebih kuat menghadapi risiko proses pengadilan. Argumen tersebut berarti bahwa auditor skala besar memiliki insentif lebih untuk mendeteksi dan melaporkan masalah going concern kliennya. (dalam jurnal penelitian Eko Budi Setyarno dan Indira Januarti Faisal : 5 : 2006).

Pengukuran kualitas audit tetap masih merupakan sesuatu yang tidak jelas, tetapi pemakai laporan keuangan biasa mengaitkannya dengan reputasi auditor (Teoh and Wong, 1993). Auditor yang memiliki reputasi baik akan cenderung untuk mempertahankan kualitas auditnya agar reputasinya terjaga dan tidak kehilangan klien. Namun, apakah reputasi auditor dapat dijadikan proksi kualitas audit yang reliable masih diragukan karena tingginya kegagalan audit yang terungkap akhir-akhir ini. Menurut Craswell et al., (1995) karakteristik industri mungkin berpengaruh pada suatu perusahaan lebih besar dibandingkan pada perusahaan lain. O’Keefe (1994) juga berpendapat bahwa auditor industry specialization berhubungan positif dengan kualitas audit diukur dengan penilaian kepatuhan auditor terhadap GAAS.

Auditor yang memiliki banyak klien dalam industri yang sama akan memiliki pemahaman yang lebih dalam tentang risiko audit khusus yang mewakili industri tersebut. Spesialisasi dalam industri tertentu menjadi sebuah tren, dan para peneliti menemukan bahwa auditor dengan spesialisasi menghasilkan penghematan finansial dan keuntungan dalam kualitas (Hogan and Jeter, 1999). Di dalam jurnal penelitian (Indira Januarti : 10 : 2007).

Password: FUaxYVti


READ MORE : File Skripsi Ekonomi : Pengaruh reputasi dan kualitas auditor terhadap opini Audit Going Concern

File Skripsi Ekonomi : Responsibility accounting system in PT. BTN (Persero) Malang


DI BAWAH INI ADALAH  KUMPULAN SKRIPSI LENGKAP EKONOMI, UNTUK MENDAPATKAN JUDUL, TESIS, PROPOSAL, TUGAS AKHIR DAN SKRIPSI EKONOMI LAINNYA BISA ANDA LIHAT DISINI 

Business plays a vital role in the life and culture of countries. It provides just anything consumers want or need, including basic necessities such as food and housing, luxurious such as wide-screen televisions, and even personal services such as caring for children and finding companionship. Businesses are run throughout the world by firms, enterprises, organizations, groups, and interpersonal. Most businesses seek to make a profit; however, some only seek to earn enough to cover their operating costs. When making a profit, they aim to achieve revenues that exceed the costs of operating in the business. To for-profit businesses, it is important to succeed undertaking the activities and obtain gains by any approaches. 

There are three wide-known types of business (Encarta 2006), they are (1) manufacturing firms, (2) merchandisers, and (3) service enterprises. Manufacturing firms produce a wide range of products. Many of them construct only parts rather than complete, finished products. Meanwhile, merchandisers help move goods through a channel of distribution - that is, the route goods take in reaching the consumers. Merchandisers may be involved in wholesaling or retailing, or sometimes both. Service enterprises include many kinds of business. In some cases service enterprises are moderately small because they do not have mechanized services and limit service to only as many individuals as they can accommodate at one time. However, it is now likely that service enterprises have become more important in terms of creating jobs and stimulating economic growth. A well-known one to be example is bank, which is an important player in financial markets.

Whatever the type is, an organization has main goal i.e. to survive from the pressing and competition in the business world. Therefore, the management needs to make sure all is well organized and efficiently. Efficiency can be defined as the most appropriate relation between input and output (Kosasih, 1990). This means an organization has the ability to achieve the desired results without wasting energy or effort. The organization may have goals to expand its range of distribution, get the consumer satisfied with its products and services, or reach multi benefits by undertaking the strategic management; anything but equals to every sacrifice. When this requirement is reached, efficiency is attained.

To perform high-level efficiency, management should encompass any useful punctual information, and the capability in making decisions accurately and promptly as well. The required information comprises all kinds of information that are germane to the activities in the bank. Under good management, the information will aid functions execution, from planning to the controlling. Responsibility accounting information is most useful for this purpose. The system refers to the delegation of authorization from top management to subordinates. The aim is to ease managing the organization and to set person in charge to be responsible for the activity in each division. This way, each division will be motivated to reach efficiency as, by the application of the system, their performance is also become measurable.

This research is to understand the implementation of responsibility accounting information in the object research, to see how far the information helps the management in planning and controlling, and if possible to help solving the problems the organization might be having. Similar researches have been produced to learn about responsibility accounting. That in budget making process, responsibility accounting information is functioned as a role-sending device to the managers in reaching corporate profit. Consequently, these studies support a specific postulation: responsibility accounting information may lead organization to the attainment of profit.

Password: niP4A9ns


READ MORE : File Skripsi Ekonomi : Responsibility accounting system in PT. BTN (Persero) Malang

File Skripsi Ekonomi : Pengaruh karakteristik komite audit terhadap manajemen laba


DI BAWAH INI ADALAH CONTOH KUMPULAN SKRIPSI LENGKAP EKONOMI, UNTUK MENDAPATKAN JUDUL, TESIS, PROPOSAL, TUGAS AKHIR DAN SKRIPSI EKONOMI LAINNYA BISA ANDA LIHAT DISINI 

Komite audit adalah sekelompok orang yang dipilih oleh kelompok yang lebih besar untuk mengerjakan pekerjaan tertentu atau untuk melakukan tugas-tugas khusus atau sejumlah anggota dewan komisaris perusahaan klien yang bertanggungjawab untuk membantu auditor dalam mempertahankan independensinya dari manajemen. Komite audit merupakan salah satu unsur kelembagaan dalam konsep Good Corporate Governance yang diharapkan mampu memberikan kontribusi tinggi dalam level penerapannya. Keberadaannya diharapkan mampu meningkatkan kualitas pengawasan internal perusahaan, serta mampu mengoptimalkan mekanisme checks and balances, yang pada akhirnya ditujukan untuk memberikan perlindungan yang optimum kepada para pemegang saham dan stakeholder lainnya. Komite audit ini diharapkan bisa mendorong penerapan prinsip-prinsip Good Corporate Governance (Independency ,transparency, accountability and resposibility, and fairness) pada korporasi yang bersangkutan. 

Komite audit bertugas membantu dewan komisaris untuk memonitor proses pelaporan keuangan oleh manajemen untuk meningkatkan kredibilitas laporan keuangan. Tugas komite audit meliputi menelaah kebijakan akuntansi yang diterapkan oleh perusahaan, menilai pengendalian internal, menelaah sistem pelaporan eksternal dan kepatuhan terhadap peraturan. Komite Audit terdiri dari sedikitnya tiga orang, diketuai oleh Komisaris Independen perusahaan dengan dua orang eksternal yang independen serta menguasai dan memiliki latar belakang akuntansi dan keuangan. Tugas dan tanggung jawab komite audit juga dipertegas melalui Keputusan Ketua BAPEPAM Nomor: Kep-41/PM/2003 yang menyebutkan bahwa komite audit bertugas untuk memberikan pendapat kepada dewan komisaris terhadap laporan keuangan atau hal-hal yang disampaikan oleh direksi kepada dewan komisaris, mengidentifikasi hal-hal yang memerlukan perhatian dewan komisaris, dan melaksanakan tugas-tugas lain yang berkaitan dengan tugas dewan komisaris.
Manajemen laba atau yang sering disebut dengan earning management adalah tindakan campur tangan manajemen dalam proses pelaporan keuangan eksternal dengan tujuan untuk menguntungkan dirinya sendiri.

Earning management merupakan salah satu faktor yang dapat mengurangi kredibilitas laporan keuangan. Praktek manajemen laba dipengaruhi oleh konflik antara kepentingan manajemen (agent) dan pemilik (principal) yang timbul karena setiap pihak berusaha untuk mencapai atau mempertimbangkan tingkat kemakmuran yang dikehendakinya. Earning management dalam hal ini hanya berkaitan dengan pemilihan metode akuntansi. Earning management dalam arti sempit ini didefinisikan sebagai perilaku manajer untuk “bermain” dengan komponen discretionary accruals dalam menentukan besarnya earnings. Earning management merupakan tindakan manajer untuk meningkatkan (mengurangi) laba yang dilaporkan saat ini atas suatu unit dimana manajer bertanggung jawab, tanpa mengakibatkan peningkatan (penurunan) profitabilitas ekonomis jangka panjang unit tersebut.

Earning management dapat mengurangi kredibilitas laporan keuangan apabila digunakan untuk pengambilan keputusan, karena earning management merupakan suatu bentuk manipulasi atas laporan keuangan yang menjadi sasaran komunikasi antara manajer dan pihak eksternal perusahaan. manajemen laba khususnya dalam pola perataan laba juga dapat dilakukan dengan tujuan untuk mengkomunikasikan informasi privat (private information) secara efisien. Manajemen laba juga dapat dilakukan untuk tujuan-tujuan tertentu yang lain, misalnya dalam rangka mendapatkan bonus berbasis laba, untuk menghindari pelanggaran kontrak utang, dan menghindari biaya politis (political cost) pada waktu perusahaan mendapat laba yang tinggi.

Manajemen laba dapat terjadi karena penyusunan laporan keuangan menggunakan dasar akrual. Sistem akuntansi akrual sebagaimana yang ada pada prinsip akuntansi yang diterima umum memberikan kesempatan kepada manajer untuk rnembuat pertimbangan akuntansi yang akan memberi pengaruh kepada pendapatan yang dilaporkan. terdapat manajemen laba dalam statement keuangan perusahaan sebelum go public dengan mengunakan akrual yang menaikkan laba. Manajemen laba ini dilakukan dengan tujuan tertentu. Dengan menggunakan akrual yang menaikkan laba, maka akan didapatkan harga saham yang relatif tinggi pada waktu penerbitan saham.

Password: t63jo5Ow


READ MORE : File Skripsi Ekonomi : Pengaruh karakteristik komite audit terhadap manajemen laba

File Skripsi Ekonomi : Adopsi international financial report standard: “kebutuhan atau paksaan?” studi kasus pada PT. Garuda Airlines Indonesia


DI BAWAH INI ADALAH CONTOH KUMPULAN SKRIPSI LENGKAP EKONOMI, UNTUK MENDAPATKAN JUDUL, TESIS, PROPOSAL, TUGAS AKHIR DAN SKRIPSI EKONOMI LAINNYA BISA ANDA LIHAT DISINI 

Adanya transaksi antar negara dan prinsip-prinsip akuntansi yang berbeda antar negara mengakibatkan munculnya kebutuhan akan standar akuntansi yang berlaku secara internasional. Oleh karena itu muncul organisasi yang bernama IASB atau International Accounting Standar Board yang mengeluarkan International Financial Report Standar (IFRS). IFRS kemudian dijadikan sebagai pedoman penyajian laporan keuangan di berbagai negara. Masalah yang selanjutnya muncul adalah bagaimana penerapan IFRS di masing-masing negara mengingat perbedaan lingkungan ekonomi, politik, hukum, dan sosial. 

Lingkungan adalah salah satu isu utama dalam masyarakat dan menjadi bagian yang signifikan dalam pengaruhnya tehadap perekonomian suatu negara. Alasan utama penyajian laporan keuangan yang memenuhi standar adalah untuk kelangsungan hidup perusahaan itu sendiri di masa depan, baik ditinjau dari segi pengguna internal maupun pengguna eksternal. Pengakuan publik akan kelengkapan dan ketransparanan laporan keuangan sebuah perseroan terbuka meningkatkan tekanan sektor bisnis untuk menyediakan laporan keuangan yang compatible dan sesuai standar (Imanuella, 2007).

Kesulitan-kesulitan lainnya mulai timbul pada saat perusahaan domestik ingin melakukan investigasi terhadap kelayakan perusahaan pembeli asing. Jika pembeli diminta untuk memberikan informasi finansial berkaitan dengan perusahaannya, ada kemungkinan bahwa informasi finansial tersebut tidak mudah diinterpretasikan, mengingat adanya asumsi-asumsi akuntansi dan prosedur akuntansi yang tidak lazim di perusahaan penjual. Sebagian besar perusahaan yang baru terjun di bisnis internasional dapat meminta bantuan kepada bank atau kantor akuntan dengan keahlian internasional untuk menganalisis dan mengintepretasikan informasi finansial tersebut. Hal lain yang harus diantisipasi adalah jika pembeli membayar dalam mata uang asing. Misalnya, sebuah perusahaan di Indonesia melakukan ekspor hasil produksinya kepada perusahaan di Amerika Serikat, dan pembeli membayar dalam dollar Amerika Serikat. Perusahaan domestik harus mengantisipasi adanya rugi atau untung potensial yang mungkin timbul karena perubahan nilai tukar antara saat order pembelian dicatat dengan saat pembayaran diterima.

Multinational Corporation, dalam bisnis yang menyangkut pemberian lisensi, perlu mengembangkan sistem akuntansi yang memungkinkan pemberi lisensi untuk melakukan pengawasan atas pelaksanaan perjanjian kerja, pembayaran royalti dan bimbingan teknis serta pencatatan pendapatan dari luar negeri dalam kaitannya dengan pajak yang harus dibayar perusahaan. Akuntansi untuk operasi anak perusahaan di luar negeri harus sesuai dengan aturan-aturan yang ditetapkan oleh pemerintah dan institusi yang berwenang di negara yang bersangkutan, yang berbeda dengan aturan-aturan di negara induk perusahaan. Selain itu harus dibuat juga sistem informasi manajemen untuk memonitor, mengawasi dan mengevaluasi operasi anak perusahaan serta membuat sistem untuk melakukan konsolidasi hasil operasi perusahaan induk dan anak. Dengan meninjau uraian di atas sangat diperlukan sebuah standar keuangan yang berlaku internasional agar nantinya memberikan kemudahan dalam perdagangan skala global.

Adopsi IFRS ini telah banyak diteliti oleh beberapa orang. Penelitian yang dilakukan Sadjiarto (1999) menghasilkan temuan bahwa karena faktor-faktor tertentu yang khusus di suatu negara, membuat masih diperlukannya standar akuntansi nasional yang berlaku di negara tersebut. Misalnya standar akuntansi keuangan Indonesia (SAK) dibandingkan dengan standar akuntansi keuangan Amerika Serikat. Dalam SAK terdapat Akuntansi untuk Perkoperasian yang belum tentu dibutuhkan di Amerika Serikat. Berdasarkan hal ini, kecil kemungkinan untuk membuat suatu standar akuntansi internasional yang lengkap dan komprehensif.

Alasan pemilihan PT. Garuda Airlines Indonesia sebagai setting penelitian adalah karena GA telah mengaplikasikan IFRS pada laporan keuangannya. Selain itu, GA merupakan perusahaan penerbangan nasional yang berstandar internasional dan sangat berpengaruh di Indonesia mengingat service yang memuaskan dan pemberian rasa aman selama terbang, sehingga keeksistensian GA tidak diragukan lagi. Alasan terakhir adalah karena GA merupakan perusahaan yang dianggap matang dan dijadikan percontohan oleh perusahaan penerbangan lain dalam mengelola keuangan dan laporan keuangan yang berstandar Internasional yang dapat dijadikan sebagai keunggulan kompetitif perusahaan ini.

Oleh karena itu penelitian ini didasarkan pada aspek ontologi yang mendasarkan pada premis bahwa akuntansi merupakan realitas yang terbentuk secara sosial (socially constructed reality). Karena tidak semua hal yang berhubungan dengan akuntansi dan laporan keuangan dapat dikuantifikasikan, maka penelitian ini dilakukan dalam paradigme interpretif (paradigma ini akan dibahas dalam bab 3) dalam lingkup metode kualitatif.

Password: a83cRqbX


READ MORE : File Skripsi Ekonomi : Adopsi international financial report standard: “kebutuhan atau paksaan?” studi kasus pada PT. Garuda Airlines Indonesia

Rabu, 20 Juni 2012

FILE ARSIP JURNAL : DOWNLOAD SKRIPSI EKONOMI GRATIS | SKRIPSI LENGKAP SEMUA JURUSAN


DI BAWAH INI ADALAH BAB I DARI CONTOH KUMPULAN SKRIPSI LENGKAP EKONOMI, UNTUK MENDAPATKAN JUDUL, TESIS, PROPOSAL, TUGAS AKHIR DAN SKRIPSI EKONOMI LAINNYA BISA ANDA LIHAT DISINI 




ABSTRAK

RIKA ELFIRA
B1B01004
Analisis Pengaruh Dana Perimbangan Terhadap Pertumbuhan Ekonomi dan Disparitas Pendapatan Antar Daerah Pasca Desentralisasi Fiskal di Indonesia
x +113 halaman ; 22 tabel ; 8 grafik ; 4 lampiran ; 2005


Penelitian ini bertujuan untuk pengaruh dana perimbangan yang merupakan inti dari pemberlakuan desentralisasi fiskal terhadap pertumbuhan ekonomi dan disparitas pendapatan antar daerah di Indonesia pada periode tahun 2001 sampai 2003. Penelitian menggunakan analisis panel data dengan model regresi fixed effect dan metode Generelized Least Square (GLS).
Dana perimbangan terdiri dari dana bagi hasil pajak, dana bagi hasil sumber daya alam, dana alokasi umum, dan dana alokasi khusus. Implikasi dari financial sharing, pemerintah pusat memberikan bagi hasil pajak dan bagi hasil sumber daya alam pada daerah yang bertujuan untuk mengurangi ketimpangan vertikal. Distribusi sumber daya alam dan pajak tidak merata disemua daerah. Oleh sebab itu, pemerintah pusat memberikan dana alokasi umum yang bertujuan untuk fiscal equalizations dan mengurangi kesenjangan antar daerah. Pemerintah pusat juga memberikan dana alokasi khusus pada daerah yang dianggap kurang mampu membiayai kegiatannya dari penerimaan daerahnya sendiri.
Hasil dari penelitian ini adalah: (1) Kebijakan desentralisasi fiskal di Indonesia mendorong pertumbuhan ekonomi daerah tetapi nilai pertumbuhan yang dihasilkan relatif rendah. (2) Dana bagi hasil pajak meningkatkan disparitas antar daerah sedangkan dana alokasi umum yang berfungsi sebagai pemerata fiskal belum berpengaruh dalam meminimalisasi disparitas pendapatan antar daerah.
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Pembangunan daerah – sebagai bagian integral dari pembangunan nasional – pada hakekatnya adalah upaya untuk meningkatkan kapasitas pemerintahan daerah sehingga tercipta suatu kemampuan yang handal dan profesional dalam menjalankan pemerintahan serta memberikan pelayanan prima kepada masyarakat. Pembangunan daerah juga berarti memampukan daerah untuk mengelola sumber daya ekonominya secara berdaya guna dan berhasil guna untuk kemajuan daerah dan kesejahteraan masyarakat.
Pembangunan daerah dapat dilakukan melalui dua pendekatan, yakni pertama, pendekatan sentralisasi dan kedua, pendekatan desentralisasi. Pendekatan  sentralisasi mengandung arti bahwa pelaksanaan pembangunan sepenuhnya merupakan wewenang pusat dan dilaksanakan oleh para birokrat di pusat. Sedangkan pendekatan desentralisasi mengandung arti bahwa pembangunan daerah – melalui desentralisasi atau otonomi daerah – memberikan peluang dan kesempatan bagi terwujudnya pemerintahan yang bersih dan baik (good governance) di daerah. Artinya pelaksanaan tugas pemerintah daerah harus didasarkan atas prinsip efektif, efisien, partisipatif, terbuka (transparency), dan akuntabilitas (accountability).
Kebijakan dan tugas umum pemerintahan serta implementasi pembangunan di daerah di masa lampau merupakan wewenang dan tanggung jawab penuh dari pemerintah pusat, Jakarta. Kewenangan pemerintah pusat yang sangat besar tersebut ternyata tidak hanya berdampak positif bagi pembangunan, tetapi disadari juga menimbulkan efek negatif antara lain pertumbuhan ekonomi daerah atau produk domestik regional bruto (gross domestic regional product) yang relatif sangat lamban, serta panjangnya birokrasi pelayanan publik karena harus menunggu petunjuk dari para pejabat pusat.
Kebijakan dan terkonsentrasinya pembangunan dan pelayanan publik terutama di pulau jawa menimbulkan kesenjangan perekonomian antar daerah di tanah air. Berbagai infrastruktur cukup memadai di wilayah Jawa. Berbeda dengan wilayah luar Pulau Jawa misalnya Kawasan Timur Indonesia (KTI). Ketimpangan (disparity) pembangunan antara Jawa dan luar Jawa – misalnya – merupakan salah satu implikasi negatif dari kebijakan pemerintah yang terpusat (centralized). Oleh karena itu, wajar bila pergerakan ekonomi dan perputaran modal relatif lebih besar dan lebih cepat di Pulau Jawa dibandingkan dengan luar Pulau Jawa.[1]
Jika dikaji dari sisi luas wilayah Indonesia dan cakupan bidang pemerintahan, maka besarnya kekuasaan atau wewenang pemerintah pusat dalam penyelenggaraan pemerintah dan pembangunan daerah dari waktu ke waktu cenderung tidak lagi efektif. Tidak dapat dipungkiri pula bahwa keterbatasan-keterbatasan yang dimiliki pusat juga mempengaruhi intensitas penyelenggaraan pelayanan publik dan pembangunan di daerah-daerah.
Otonomi daerah merupakan solusi alternatif dalam mengatasi berbagai permasalahan di atas. Indonesia memasuki era otonomi daerah sejak tanggal 1 Januari 2001. Pelaksanaan otonomi daerah mengacu pada UU nomor 22 tahun 1999 mengenai pembagian kewenangan dan fungsi (power sharing) antara pemerintah pusat dan daerah dan UU nomor 25  tahun 1999 mengenai perimbangan keuangan pusat dan daerah yaitu pengaturan pembagian sumber-sumber daya keuangan (financial sharing) antara pusat-daerah sebagai konsekuensi dari adanya pembagian kewenangan tersebut.
            Kondisi ini membawa implikasi pada pelimpahan kewenangan antara pusat dan daerah dalam berbagai bidang. Dengan adanya otonomi daerah, maka terjadi desentralisasi yang menyangkut pengelolaan keuangan daerah, perencanaan ekonomi       (termasuk menyusun program-program pembangunan daerah) dan perencanaan lainnya yang dilimpahkan dari pusat ke daerah. Pemerintah daerah memiliki kewenangan yang luas dalam mengatur  sumber daya yang ada untuk meningkatkan kemajuan dan kemakmuran masyarakat.
            Di era otonomi daerah, pemerintah daerah diharapkan mampu melakukan alokasi sumber daya yang efisien. Kemampuan daerah untuk mengelola sumber daya secara efisien tercermin dari kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah daerah selaku perencana, dimana hal ini akan membawa dampak pada keberhasilan ekonomi daerah secara optimal. Dengan adanya otonomi, setiap daerah diharapkan mampu mengembangkan potensi baik sumber daya alam, sumber daya manusia, budaya untuk meningkatkan kemakmuran bagi seluruh masyarakat daerah. Dengan kata lain, bahwa otonomi daerah menuntut adanya suatu kemandirian daerah didalam berbagai aspek terutama aspek perencanaan, keuangan, dan pelaksanaan. [2]
Desentralisasi fiskal, merupakan salah satu komponen utama dari otonomi daerah. Apabila pemerintah daerah melaksanakan fugsinya secara efektif, dan diberikan kebebasan dalam pengambilan keputusan penyediaan pelayanan di sektor publik, maka mereka harus didukung sumber-sumber keuangan yang memadai baik berasal dari Pendapatan Asli Daerah (PAD), pinjaman, maupun dana perimbangan dari pemerintah pusat.
Kebijakan desentralisasi fiskal di Indonesia sesuai dengan UU Nomor 22 tahun 1999 dan UU Nomor 25 Tahun 1999 serta UU-APBN, pada dasarnya bertujuan untuk[3] :
  • Kesinambungan kebijaksanaan fiskal (Fiscal Sustainability) dalam konteks kebijaksanaan ekonomi makro.
  • Mengoreksi vertical imbalance, yaitu untuk memperkecil ketimpangan yang terjadi antara keuangan pemerintah pusat dan keuangan daerah yang dilakukan dengan memperbesar taxing power daerah. Sebagai gambaran seperti ditunjukkan dalam Tabel 1.1 dan Gambar 1.1, dimana dalam tahun 2001 taxing power daerah di Indonesia relatif masih rendah yaitu sekitar 5,30% dari konsolidasi APBN dan APBD dibandingkan dengan negara-negara sedang berkembang, negara-negara transisi, dan negara-negara OECD.     
Tabel 1.1
Perbandingan Total PAD dan Pengeluaran Pemerintah Daerah Terhadap Konsolidasi APBD dan APBN, Termasuk Perkiraan Pengaruh Dari Transfer PBB, BPHTB Dan PPh Untuk Menjadi Pendapatan Kabupaten/Kota

Negara
Persentase terhadap Total Pendapatan
Persentase Terhadap Total Pengeluaran
Negara berkembang tahun 1990-an
9,27
13,78
Negara transisi tahun 1990-an
16,59
26,12
Negara-negara OECD tahun 1990-an
19,13
32,41
Republik Indonesia TA 1989/1990
4,69
16,62
Republik Indonesia TA 1994/1995
6,11
22,97
Republik Indonesia TA 2001
5,30
27,78
Republik Indonesia TA 2001 *)
7,96
27,78

*)Berdasarkan pada perkiraan pengaruh desentralisasi dari PBB,BPHTB dan PPh
Sumber : Bank Dunia dan Nota Keuangan Pemerintah Indonesia pada berbagai tahun.
  • Mengkoreksi horizontal imbalance yaitu ketimpangan antar Daerah dalam kemampuan keuangannya, dimana relatif masih sangat bervariasi kemampuan Akuntabilitas, efektivitas, dan efisiensi dalam rangka peningkatan kinerja pemerintah Daerah.
  • Peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat.
  • Adanya partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan di sektor publik (demokratisasi).
Grafik 1.1
Perkembangan Persentase PAD dan Persentase Pengeluaran Pemerintah Daerah Terhadap Konsolidasi APBN + APBD
Untuk mendukung pelaksanaan desentralisasi, pemerintah telah menerbitkan empat buah Peraturan Pemerintah pada bulan November 2000. Empat peraturan tersebut adalah[4] :
  1. PP Nomor 104 tahun 2000 tentang dana perimbangan, didukung oleh Keputusan Presiden Nomor 181 tahun 2000 mengenai dana alokasi umum daerah propinsi dan daerah kabupaten/kota tahun anggaran 2001.
  2. PP Nomor 105 tahun 2000 tentang pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan daerah.
  3. PP Nomor 106 tahun 2000 tentang pengelolaan dan pertanggung jawaban keuangan dalam pelaksanaan dekonsentrasi dan tugas pembantuan.
  4. PP Nomor 107 tahun 2000 tentang pinjaman daerah.
Dikarenakan uraian diatas penulis beranggapan perlu untuk meneliti lebih dalam sejauh mana pengaruh penerapan desentralisasi fiskal secara tepat terhadap pertumbuhan ekonomi dan disparitas atau ketimpangan pendapatan antar daerah, serta bagaimana arah hubungan tersebut, maka judul yang diajukan penulis tentang penelitian ini adalah ANALISIS PENGARUH DANA PERIMBANGAN  TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI DAN DISPARITAS PENDAPATAN ANTAR DAERAH PASCA DESENTRALISASI FISKAL DI INDONESIA “.

1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan deskripsi yang dituangkan di atas, maka pembahasan skripsi ini akan dibatasi pada beberapa pokok permasalahan sebagai berikut:
1.      Bagaimana pengaruh indikator desentralisasi yaitu dana perimbangan (dana bagi hasil pajak, bagi hasil SDA, DAU, dan DAK) terhadap pertumbuhan ekonomi regional masing-masing propinsi di Indonesia periode 2001 -2003 (setelah penerapan desentralisasi fiskal).
2.      Bagaimana pengaruh indikator desentralisasi yaitu dana perimbangan (dana bagi hasil pajak, bagi hasil SDA, DAU, dan DAK) terhadap disparitas pendapatan masing-masing propinsi di Indonesia periode 2001 -2003 (setelah penerapan desentralisasi fiskal).
1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian
Maksud dan tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:
1.      Untuk mengetahui pengaruh dana perimbangan (dana bagi hasil pajak, bagi hasil SDA, DAU, dan DAK) terhadap pertumbuhan ekonomi regional masing-masing propinsi di Indonesia periode 2001 -2003 (setelah penerapan desentralisasi fiskal).
2.      Untuk mengetahui pengaruh dana perimbangan (dana bagi hasil pajak, bagi hasil SDA, DAU, dan DAK) terhadap disparitas pendapatan masing-masing propinsi di Indonesia periode 2001 -2003 (setelah penerapan desentralisasi fiskal).

1.4  Manfaat Penelitian
1.      Kegunaan praktis, penelitian ini dapat menghasilkan implikasi yang lebih bernilai untuk para pembuat kebijakan dalam memecahkan permasalahan perekonomian Indonesia dalam bidang fiskal dan kebijakan publik berkaitan dengan desentralisasi fiskal khususnya perimbangan keuangan pusat dan daerah.
2.      Kegunaan akademis, sebagai referensi bagi penelitian yang lebih lanjut dan mendalam.




1.5 Kerangka Pemikiran
1.5.1 Konsep Desentralisasi Fiskal dan Dana Perimbangan (Intergovernmental Transfer)
1.5.1.1 Konsep Desentralisasi Fiskal [5]
            Desentralisasi merupakan sebuah alat untuk mencapai salah satu tujuan bernegara, yaitu terutama memberikan pelayanan publik yang lebih baik dan menciptakan proses pengambilan keputusan publik yang lebih demokratis. Dengan desentralisasi akan diwujudkan dalam pelimpahan kewenangan kepada tingkat pemerintahan untuk melakukan pembelanjaan, kewenangan untuk memungut pajak (taxing power),terbentuknya Dewan yang dipilih oleh rakyat, Kepala Daerah yang dipilih oleh DPRD dan adanya bantuan dalam bentuk transfer dari pemerintah pusat.
Desentralisasi tidaklah mudah untuk didefinisikan, karena menyangkut berbagai bentuk dan dimensi yang beragam, terutama menyangkut aspek fiskal, politik, perubahan administrasi dan sistem pemerintahan dan pembangunan sosial dan ekonomi. Secara umum, konsep desentralisasi terdiri atas Desentralisasi Politik (Political Decentralization); Desentralisasi Administratif (Administrative Decentralization); Desentralisasi Fiskal (Fiscal Decentralization); dan Desentralisasi Ekonomi (Economic or Market Decentralization).
Sedangkan definisi desentralisasi menurut ketentuan dalam UU Nomor 22 tahun 1999 pasal 1 bahwa :
            “ Desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintahan oleh pemerintah kepada Daerah otonom dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.”
Berbagai argumen yang mendukung desentralisasi antara lain dikemukakan oleh Tiebout (1956), Oates (1972), Tresch (1981), Breton (1996), Weingast (1995), dan sebagaimana dikutip oleh Litvack et al (1998) yang mengatakan bahwa pelayanan publik yang paling efisien seharusnya diselenggarakan oleh wilayah yang memiliki kontrol geografis yang paling minimum, karena :
  1. Pemerintah lokal sangat menghayati kebutuhan masyarakatnya
  2. Keputusan pemerintah lokal sangat responsif terhadap kebutuhan masyarakat, sehingga mendorong pemerintah lokal untuk melakukan efisiensi dalam penggunaan dana yang berasal dari masyarakat;
  3. Persaingan antar daerah dalam memberikan pelayanan kepada masyarakatnya akan mendorong pemerintah lokal untuk meningkatkan inovasinya
Desentralisasi fiskal, merupakan salah satu komponen utama dari desentralisasi. Apabila Pemerintah Daerah melaksanakan fungsinya secara efektif, dan diberikan kebebasan dalam pengambilan keputusan penyediaan pelayanan di sektor publik, maka mereka harus didukung sumber-sumber keuangan yang memadai baik yang berasal dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) termasuk surcharge of taxes, Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak, Pinjaman, maupun Subsidi/Bantuan dari Pemerintah Pusat.
Keberhasilan pelaksanaan desentralisasi akan sangat tergantung pada desain, proses implementasi, dukungan politis baik pada tingkat pengambilan keputusan di masing-masing tingkat pemerintahan, maupun masyarakat secara keseluruhan, kesiapan administrasi pemerintahan, pengembangan kelembagaan dan sumber daya manusia, mekanisme koordinasi untuk meningkatkan kinerja aparat birokrasi, perubahan sistem nilai dan perilaku birokrasi dalam memenuhi keinginan masyarakat khususnya dalam pelayanan sektor publik.
Pelaksanaan desentralisasi fiskal akan berjalan dengan baik dengan mempedomani hal-hal sebagai berikut :
  • Adanya Pemerintah Pusat yang kapabel dalam melakukan pengawasan dan enforcement;
  •  Terdapat keseimbangan antara akuntabilitas dan kewenangan dalam melakukan pungutan pajak dan retribusi Daerah.
1.5.1.2 Dana Perimbangan Pusat dan Daerah (Intergovernmental Transfer)
Dalam desentralisasi, perencanaan dan pengelolaan pembangunan perlu didukung oleh kebijaksanaan penyerahan sumber-sumber keuangan yang memadai. Kebijaksanaan ini tidak hanya menyangkut besarnya dana yang dialokasikan kepada daerah, tetapi lebih lagi dibutuhkan pelimpahan kewenangan kepada daerah untuk menggunakan dana tersebut sesuai dengan kondisi dan kebutuhan daerah. Pemberian sumber-sumber keuangan yang memadai tidak dapat sepenuhnya digantungkan pada PAD, namun juga perlu didukung oleh sumbangan dan bantuan dari pemerintah pusat. Peningkatan potensi penerimaan daerah hanya dapat dilaksanakan jika daerah mendapat sumber pendapatan yang potensial (Mari E. Pangestu, 1991).[6]
Pelaksanaan Undang-undang Nomor 22 dan 25 Tahun 1999 telah menyebabkan terjadi perubahan yang sangat mendasar mengenai pengaturan hubungan Pusat dan Daerah, khususnya dalam bidang administrasi pemerintahan maupun dalam hubungan keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah, yang dalam banyak literatur disebut intergovernment fiscal relation yang dalam UU 25/1999 disebut perimbangan keuangan.
Sesuai Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999, Daerah diberikan kewenangan untuk menyelenggarakan seluruh fungsi pemerintahan, kecuali kewenangan pemerintahan dalam bidang pertahanan keamanan, politik luar negeri, fiskal dan moneter, peradilan, agama, dan adminsitrasi pemerintahan yang bersifat strategis. Dengan pembagian kewenangan/fungsi tersebut pelaksanaan pemerintahan di Daerah dilaksanakan berdasarkan asas desentralisasi, asas dekonsentrasi dan tugas pembantuan. Implikasi langsung dari kewenangan/fungsi yang diserahkan kepada Daerah sesuai Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 adalah kebutuhan dana yang cukup besar. Untuk itu, perlu diatur hubungan keuangan antara Pusat dan Daerah yang dimaksudkan untuk membiayai pelaksanaan fungsi yang menjadi kewenangannya. [7]
Jadi sesuai dengan UU Nomor 22 dan 25 Tahun 1999 bahwa perimbangan keuangan Pusat dan Daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi fiskal mengandung pengertian bahwa kepada Daerah diberikan kewenangan untuk memanfaatkan sumber keuangan sendiri dan didukung dengan perimbangan keuangan antara Pusat dan Daerah.
Kebijaksanaan perimbangan keuangan antara Pusat dan Daerah dilakukan dengan mengikuti pembagian kewenangan atau money follows function. Hal ini berarti bahwa hubungan keuangan antara Pusat dan Daerah perlu diberikan pengaturan sedemikian rupa, sehingga kebutuhan pengeluaran yang akan menjadi tanggungjawab Daerah dapat dibiayai dari sumber-sumber penerimaan yang ada.
Selanjutnya dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat berdasarkan asas desentralisasi, kepada Daerah diberikan kewenangan untuk memungut pajak/retribusi (tax assignment) dan pemberian bagi hasil penerimaan (revenue sharing) serta bantuan keuangan (grant) atau dikenal sebagai Dana Perimbangan.
Dana perimbangan adalah salah satu sumber penerimaan daerah. Pada pasal 6 UU No.25 tahun 1999 dana perimbangan terdiri dari : Bagian Daerah dari penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB BPHTB), dan penerimaan dari bagi hasil sumber daya alam (SDA); Dana Alokasi Umum (DAU) diatur pada pasal 7 UU No. 25 tahun 1999 formula yang digunakan dalam pembagian DAU yaitu menggunakan dua kriteria yaitu kemampuan fiscal (fiscal capacity) dan kebutuhan fiskal pemerintah daerah; Dana Alokasi Khusus (DAK) yang tercantum pada pasal 8 UU No. 25 tahun 1999.[8]
1.5.2 Pertumbuhan Ekonomi dan Disparitas Pendapatan Antar Daerah di Indonesia
1.5.2.1 Pertumbuhan ekonomi
            Menurut Kuznets[9], “ Pertumbuhan ekonomi adalah kenaikan kapasitas dalam jangka panjang dari negara yang bersangkutan untuk menyediakan berbagai barang ekonomi kepada pendudduknya. Kenaikan kapasitas itu sendiri ditentukan atau dimungkinkan oleh adanya kemajuan atau penyesuaian-penyesuaian teknologi, institusional (kelembagaan) dan ideologis terhadap berbagai tuntutan yang ada “. Masing-masing dari ketiga komponen pokok, yaitu :
1.      Kenaikan output secara berkesinambungan adalah manifestasi atau perwujudan dari apa yang disebut sebagai pertumbuhan ekonomi, sedangkan kemampuan menyediakan berbagai jenis barang itu sendiri merupakan tanda kematangan ekonomi (economic maturity) di suatu negara yang bersangkutan.
2.      Perkembangan teknologi merupakan dasar atau prakondisi bagi berlangsungnya suatu pertumbuhan ekonomi secara berkesinambungan; ini adalah suatu kondisi yang sangat diperlukan, tetapi tidak cukup itu saja (jadi, disamping perkembangan atau kemajuan teknologi, masih dibutuhkan faktor-faktor lain).
3.      Guna mewujudkan potensi pertumbuhan yang terkandung di dalam teknologi baru, maka perlu diadakan serangkaian penyesuaian kelembagaan, sikap, dan ideologi. Inovasi di bidang teknologi tanpa dibarengi inovasi sosial berarti potensi ada, akan tetapi tanpa input komplementernya maka hal itu tidak bisa membuahkan hasil apapun.
Pertumbuhan ekonomi (economic growth) didefinisikan sebagai ekspansi dari kapasitas untuk memproduksi barang dan jasa dari suatu perekonomian atau ekspansi dari kemungkinan memproduksi (production possibilities) suatu perekonomian. Keberhasilan pertumbuhan ekonomi daerah, dalam rangka peningkatan kesejahteraan penduduknya, dapat dinilai melalui tingkat pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). PDRB ini adalah output yang dihasilkan dari input-input yang diperkirakan dalam harga pada suatu tahun dasar (base year) atau disebut juga PDRB pada harga konstan (constant prices).
            Seperti yang dikutip dari nota keuangan dan RAPBN 1991/1996 dikatakan bahwa karena setiap daerah mempunyai ciri yang berbeda-beda baik dilihat dari potensi, luas wilayah, mata pencaharian, jumlah penduduk, maupun keadaan daerah, tentunya gambaran PDRB untuk masing-masing daerah berbeda pula. Karena itulah PDRB merupakan indikator yang sangat penting untuk mengetahui tingkat keberhasilan pembangunan daerah yang telah dilaksanakan dan sekaligus berguna untuk menentukan arah pembangunanya di masa yang akan datang.
            Pada tabel 1.2 dapat dilihat rata-rata pertumbuhan Real Gross domestic Product per tahun berdasarkan propinsi dari tahun 1994-2003, dari tabel tersebut pada tahun dimana terjadi krisis ekonomi di Indonesia yaitu tahun 1997/1998 pertumbuhan real GDP hampir seluruh propinsi adalah negatif, kecuali propinsi Bangka-Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan timur, Sulawesi Utara, Sulawesi tengah, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat dan Papua. Keadaan ini mulai membaik pada tahun 1999/2000 dengan terlihat hanya beberapa propinsi saja yang masih memiliki pertumbuhan real GDP yang negatif. Sedangkan sejak mulai diberlakukannya desentralisasi fiskal di Indonesia yaitu pada periode tahun 2001/2003 seluruh propinsi memliki pertumbuhan real GDP yang positif. Hal ini mengindikasikan terdapat hubungan positif dari penerapan desentralisasi fiskal terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia.


Tabel 1.2
Rata-rata Pertumbuhan GDP Riil Menurut Propinsi Tahun 1994-2003
Province
1994-1996
1997-1998
1999-2000
2001-2003
Aceh
1.8
-4.7
-6.2
1.7
North Sumatra
9.2
-2.6
3.7
4.1
West Sumatra
8.1
-0.8
2.7
4.1
Riau
4.8
-0.4
5
4.5
Jambi
8.5
-0.8
4.2
4.9
South Sumatra
8.3
-1
2.1
3.6
Bangka Belitung
9.1
0.7
4.1
5
Bengkulu
6.7
-1.6
3.4
4.5
Lampung
8.5
-1.4
3.5
4.8





Jakarta
9
-6.2
2
4
West Java
9.8
-3.3
2.7
4.3
Banten
n.a
n.a
n.a
5.3
Central Java
7.2
-4.4
3.7
3.7
Yogyakarta
7.9
-3.8
2.5
3.8
East Java
7.9
-5.6
2.2
3.6





West Kalimantan
9.3
1.4
2.8
2.3
Central Kalimantan
9.6
-0.3
1.2
3.6
South Kalimantan
9.3
-0.4
4.4
4.1
East Kalimantan
8
1.8
4.5
4.1





North Sulawesi
8.1
1.7
6
4.5
Gorontalo
n.a
n.a
n.a
6.2
Central Sulawesi
8
0.4
3.5
5.6
South Sulawesi
8.1
-0.5
3.9
5
Southeast Sulawesi
6.6
-0.2
3.9
6.4





Bali
7.9
-0.9
1.9
3.4
West Nusa Tenggara
7.8
1.1
16.5
5.3
East Nusa Tenggara
8.5
1.4
3.5
5.6
Maluku
7.6
-1.9
-15.2
1.7
North Maluku
n.a
n.a
n.a
2.3
Papua
13.9
10.1
-0.7
3.3





Indonesia
7.9
-4.2
2.9
3.8
Variance (unweighted)
3.8
9.3
5.1a
1.3
n.a : not applicable
a Outlier results for West Nusa Tenggara and Maluku are excluded from the variance calculation
Souce : Unpublished BPS data

1.5.2.2 Disparitas Pendapatan Antar Daerah di Indonesia
      Distribusi pendapatan regional mencerminkan merata atau timpangnya pembagian hasil pembangunan suatu daerah di kalangan penduduknya.  Terdapat berbagai kriteria atau tolak ukur untuk menilai tingkat distribusi yang dimaksud yaitu [10]:
1.      Kurva Lorenz
2.      Indeks Gini
3.      Kriteria bank dunia
Kurva Lorenz akan menggambarkan distribusi kumulatif pendapatan nasional di kalangan lapisan-lapisan penduduknya secara kumulatif pula.  Kurva ini terletak di dalam sebuah bujur sangkar yang sisi tegaknya melambangkan persentase kumulatif pendapatan nasional, sedangkan sisi datarnya mewakili persentase kumulatif penduduk.
Kurva Lorenz menunjukan hubungan kuantitatif antara persentase penerimaan (pendapatan penduduk) dan persentase total pendapatan yang benar-benar diperoleh selama periode waktu tertentu, semakin jauh garis kurva Lorenz dari garis diagonal (kemerataan sempurna), maka tingkat pemerataan pendapatan semakin timpang.
Gambar 1.1
Kurva Lorenz
            Indeks Gini adalah ukuran ketidakseimbangan atau ketimpangan pendapatan yang angkanya berkisar antara nol (pemerataan sempurna) hingga satu (ketimpangan sempurna).  Ide dasar dari indeks gini berasal dari kurva Lorenz yang bermaksud untuk menjelaskan daerah A, dan indeks gini adalah rasio antara daerah A dan segitiga OPQ jadi hal ini menyebabkan angka indeks gini berkisar antara nol dan satu[11]. Konsep tingkat pemerataan pendapatan menggunakan konsep distribusi ukuran dimana konsep ini menyangkut segi manusia sebagai perorangan atau rumah tangga dan total pendapatan yang diterima, dengan angka ketimpangan untuk negara-negara maju antara 0,2 hingga 0,25 untuk negara-negara berkembang antara 0,26 hingga 0,35.  Untuk menganalisa statistik digunakan kurva Lorenz yang lazim dipakai untuk melihat ketimpangan pendapatan di masyarakat.  Rasio gini juga dapat dihitung secara matematik dengan rumus :
 .................................................................. (1.1)
0 < G < 1
dimana :  G     =  Rasio Gini
                 Pi    =  Proporsi jumlah kumulatif penduduk dalam kelas i
                 Yi    =  Proporsi jumlah kumulatif pendapatan dalam kelas i
            Sedangkan Kriteria ketidakmerataan versi bank dunia didasarkaan atas porsi pendapatan nasional yang dinikmati oleh tiga lapisan penduduk yakni 40% penduduk berpendapatan rendah (penduduk termiskin), 40 % penduduk berpendapatan menengah,serta 20% berpendapatan tertinggi (penduduk terkaya).  Ketimpangan atau ketidakmerataan distribusi dinyatakan parah apabila 40% penduduk berpendapatan rendah menikmati kurang dari 12% pendapatan nasional.  Ketidakmerataan dianggap sedang apabila penduduk termiskin menikmati antara 15% hingga 17% pendapatan nasional.

1.6 Metode Penelitian
1.6.1 Ruang Lingkup Penelitian
Analisis penelitian dibatasi pada pembentukan variabel mana yang yang berlaku sebagai variabel dependen dan variabel independen. Variabel-variabel yang diteliti adalah variabel komponen Dana Perimbangan yang terdiri dari dana bagi hasil pajak, bagi hasil SDA, DAU, dan DAK serta variabel pertumbuhan ekonomi regional (PDRB) dan variabel untuk melihat disparitas antar daerah digunakan gini ratio. Penulis melakukan penelitian terhadap 30 propinsi di wilayah Indonesia. Karena pusat desentralisasi di Indonesia berada pada daerah tingkat II yaitu Kabupaten / Kota, maka pada satu model penulis mengestimasi dua kriteria, yaitu pertama estimasi gabungan propinsi dan kabupaten / kota (memasukkan komponen desentralisasi fiskal dari setiap kabupaten / kota dan kemudian dijumlahkan dengan komponen desentralisasi fiskal pada tingkat propinsi). Dan kedua estimasi dari agregasi kabupaten / kota di tingkat propinsi karena masing-masing kabupaten / kota diasumsikan mempunyai karakteristik yang sama di propinsi tersebut (hanya data komponen desentralisasi fiskal pada tingkat kabupaten / kota saja tetapi cross section tetap dinamakan propinsi tempat kabupaten / kota tersebut) dan data yang digunakan mengabaikan pemekaran kabupaten / kota yang berubah tiap tahunnya. Dalam penelitian ini digunakan data panel dari tahun 2001-2003, untuk menggambarkan perkembangan dana perimbangan, pertumbuhan ekonomi, dan disparitas pendapatan antar daerah pada propinsi-propinsi di Indonesia.

1.6.2 Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang dipergunakan adalah data sekunder yang bersumber dari :
·         Badan Pusat Statistik Pusat Jakarta
·         Direktorat Jenderal Perimbangan keuangan Pusat dan Daerah, Departemen Keuangan Republik Indonesia.
·         Nota Keuangan dan RAPBN RI
·         Berbagai sumber lainnya yang relevan seperti jurnal, internet, buletin, buku, artikel, surat kabar,  majalah dan hasil-hasil penelitian yang berhubungan dengan penelitian yang dilakukan.

1.6.3 Metode Analisis
1.6.3.1 Model ekonometrika
            Untuk melakukan analisis dalam penelitian ini maka metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada model dasar, untuk melihat pengaruh desentralisasi fiskal terhadap pertumbuhan ekonomi, model yang digunakan yaitu ;
......................................... (1.2)
i = 1,... , 30,                             t = 1, ... , 4
Keterangan :
LPDRBit                            = Tingkat pertumbuhan Pendapatan Domestik Regional Bruto
                                       pada  propinsi i dan tahun t
Desentralisasiit             = Indikator-indikator dari desentralisasi fiskal pada propinsi
                                       (termasuk kabupaten/kota) atau agregasi kabupaten/kota di
                                        propinsi i  dan tahun t
Xit                                = variabel-variabel kontrol yang menunjukkan karakteristik-
                                       karakteristik pada propinsi i dan tahun t.
α0                                 = Intercept
α1                                 = Parameter desentralisasi
β                                  = Parameter variabel kontrol
μit                                = error term
           
Sedangkan untuk melihat pengaruh desentralisasi fiskal terhadap disparitas antar daerah di Indonesia maka model yang digunakan yaitu ;
 .........................................................  (1.3)
i = 1,... , 30,                             t = 1, ... , 4

Keterangan :
GINIit                                  = Indeks Gini untuk mengukur disparitas pendapatan antar
    daerah propinsi i dan tahun t
Desentralisasiit             = Indikator-indikator dari desentralisasi fiskal pada propinsi                                        
                                      (termasuk kabupaten/kota) atau agregasi kabupaten/kota di
                                       propinsi i dan tahun t
θ0                                 = Intercept
θ1                                 = Parameter desentralisasi
μit                                = error term
Pada model (1.2) untuk melihat pengaruh desentralisasi fiskal terhadap pertumbuhan ekonomi digunakan indikator desentralisasi dan variabel-variabel kontrol yang juga mempengaruhi tingkat pertumbuhan ekonomi suatu wilayah. Indikator-indikator pada variabel desentralisasi fiskal di Indonesia dispesifikasikan menjadi dana perimbangan sebagai salah satu sumber penerimaan daerah yang terdiri dari dana bagi hasil pajak, dana bagi hasil sumber daya alam, dana alokasi khusus dan dana alokasi umum. Sedangkan variabel-vaiabel kontrol pada Xit  terdiri dari perubahan PDRB propinsi tersebut tahun sebelumnya, rasio penduduk Indonesia yang tamat sekolah menengah atas, dan Pendapatan Asli Daerah yang didapatkan oleh daerah tersebut.
Dari penjelasan diatas maka model sederhana (1.2) tersebut diatas dapat dijabarkan menjadi :
 ..... (1.4)
Keterangan :
LPDRBit                            = Tingkat pertumbuhan Pendapatan Domestik Regional Bruto
                                        pada propinsi i dan tahun t
α0                                 = intercept
α1-α4                            = parameter desentralisasi
β1-β3                            = parameter variabel-variabel kontrol
μit                                = error term
Indikator desentralisasi fiskal di Indonesia :
DBHpajakit      = Dana Bagi Hasil Pajak pada  propinsi (termasuk kabupaten/kota)
                            atau agregasi kabupaten/kota di propinsi i dan tahun t
DBHSDAit      = Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam pada propinsi (termasuk
                          kabupaten/kota) atau agregasi kabupaten/kota di propinsi i dan tahun t
DAUit              = Dana Alokasi Umum pada propinsi (termasuk kabupaten/kota) atau
                           agregasi kabupaten/kota di propinsi i dan tahun t
DAKit              = Dana Alokasi Khusus pada propinsi  (termasuk kabupaten/kota) atau
                           agregasi kabupaten/kota di  propinsi i dan tahun t
Variabel-variabel Kontrol :
LPDRBit -1         = Tingkat pertumbuhan pendapatan domestik regional bruto tahun
                            sebelumnya pada propinsi i.
PENDit                        = Rasio penduduk Indonesia yang tamat sekolah menengah atas pada
                           propinsi i dan tahun t
PADit              = Pendapatan Asli Daerah pada propinsi (termasuk kabupaten/kota)
                           atau agregasi kabupaten/kota di propinsi i dan tahun t
            Sedangkan pada model (1.3) untuk melihat pengaruh desentralisasi fiskal terhadap disparitas pendapatan antar daerah hanya digunakan indikator desentralisasi yaitu komponen dana perimbangan daerah. Maka persamaan (1.3) dapat dijabarkan menjadi ;
 ..... (1.5)
Keterangan :
GINIit                                  = Indeks Gini untuk mengukur ketimpangan antar daerah pada
   propinsi i dan tahun t
θ0                                 = intercept
θ1-θ4                            = parameter desentralisasi
μit                                = error term
Indikator desentralisasi fiskal di Indonesia :
DBHpajakit      = Dana Bagi Hasil Pajak pada  propinsi (termasuk kabupaten/kota)
                            atau agregasi kabupaten/kota di propinsi i dan tahun t
DBHSDAit      = Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam pada propinsi (termasuk
                          kabupaten/kota) atau agregasi kabupaten/kota di propinsi i dan tahun t
DAUit              = Dana Alokasi Umum pada propinsi (termasuk kabupaten/kota) atau
                           agregasi kabupaten/kota di propinsi i dan tahun t
DAKit              = Dana Alokasi Khusus pada propinsi  (termasuk kabupaten/kota) atau
                           agregasi kabupaten/kota di  propinsi i dan tahun t

1.6.3.2 Model Regresi Panel Data
            Pada penelitian ini digunakan teknik pengolahan data dengan menggunakan panel data regression model (model regresi panel data). Karena data-data yang akan diolah merupakan cross sections observations dan pooling of time series yang diperoleh dan diteliti sejalan dengan perjalanan waktu. Metode panel data ini mempunyai ruang dan dimensi waktu, sehingga estimasi variabel dan hasil perhitungan akan memberikan analisa empiris yang lebih luas.
            Dengan menggabungkan data time series dan cross section maka akan terdapat 120 observasi (4 observasi time series untuk 30 propinsi di Indonesia) yang akan dikombinasikan ke dalam suatu persamaan regresi yang telah disediakan

1.6.4 Hipotesa
            Pada penelitian ini hipotesa yang akan diuji adalah :
1.      Indikator desentralisasi yaitu dana perimbangan (Dana bagi hasil pajak dan SDA, DAU dan DAK) berpengaruh secara signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi daerah (Laju Pertumbuhan PDRB).
2.      Dana Perimbangan yang berasal dari bagi hasil pajak dan SDA meningkatkan disparitas antar daerah.
3.      Dana Alokasi Umum (DAU) efektif untuk mengurangi disparitas antar daerah.

1.6.5 Pengujian Statistik[12]
1.6.5.1      Uji koefisien determinasi (R2)
Uji ini digunakan untuk mengetahui besarnya kemampuan variabel-variabel bebas menerangkan variabel tidak bebas pada model secara bersama-sama.
Nilai R2 berkisar antara 0 sampai dengan 1. Semakin besar nilai R2, maka semakin besar pula kemampuan variabel-variabel bebas menerangkan variabel tidak bebas.   

1.6.5.2      Uji t-statistik
Uji ini digunakan untuk mengetahui apakah variabel-variabel bebas dalam model secara terpisah mempunyai pengaruh nyata terhadap variabel tidak bebas untuk tingkat kepercayaan = a   dan df = n-k dengan hipotesa:
H0  :  variabel bebas tidak mempengaruhi variabel tidak bebas
H1  :  variabel bebas mempengaruhi variabel tidak bebas
Jika –t-tabel < t-hitung< t-tabel maka H0 diterima artinya variabel bebas secara terpisah tidak mempengaruhi vriabel tidak bebas.
Jika t-hitung  < -t-tabel atau t-hitung > t-tabel maka H0 ditolak artinya variabel bebas secara terpisah berpengaruh terhadap variabel tidak bebas.

1.6.5.3      Uji F- statistik
Uji ini digunakan untuk mengetahui variabel-variabel bebas secara bersama-sama mempengaruhi variabel tidak bebas dengan hipotesis:
H0  :  semua variabel bebas secara bersama-sama tidak mempengaruhi    variabel tidak bebas.
H1 :  semua variabel bebas secara bersama-sama mempengaruhi  variabel tidak bebas.
Dengan tingkat keyakinan=a  dan df= (k-1) (N-k)
H0 diterima jika F-hitung < F-tabel
H0 ditolak jika F-hitung > F-tabel

1.6.5.4      Uji Durbin-Watson (D-W)
Uji ini digunakan untuk mengetahui ada tidaknya autokrelasi. Jika  nilai D-W statistik berada pada daerah yang tidak meyakinkan (no- decision)  maka harus dilakukan pengujian Run (Run-test). Pengujian dengan uji D-W adalah :
H0 : tidak ada autokorelasi
H1 : ada autokorelasi
Dengan menerapkan H0 di kedua ujung, yaitu bahwa tidak ada autokorelasi positif maupun negatif jika:
DW-stat < dL           : H0 ditolak                   dL<DW-stat<dU            : tidak meyakinkan
DW-stat > 4-dL        : H0 ditolak                   4-dU<DW-stat<4-dL  : tidak meyakinkan
dU<DW-stat<4-dU  : H0 diterima







[1] Juli Panglima Saragih, “ Desentralisasi Fiskal dan Keuangan daerah Dalam Otonomi “, Penerbit Ghalia Indonesia, Jakarta, 2003.
[2] Teguh Dartanto, “Dampak Desentralisasi Fiskal di Indonesia terhadap Pertumbuhan Ekonomi dan Disparitas Antar Daerah : Analisa Model Makro Ekonometrik simultan”, Jakarta, Skripsi sarjana IESP-FEUI, 2002.
[3]  Machfud Sidik, DirJen PKPD-DepKeu RI “ Desentralisasi Fiskal : Kebijakan, Implementasi. Dan Pndangan ke Depan Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah “, Yogyakarta, disampaikan dalam Seminar Nasional : Menciptakan Good Governance demi Mendukung Otonomi Daerah dan Desentralisasi Fiskal, 2002
[4] Armida S. Alisjahbana, “ Modul Ekonomi Kebijakan Publik Jurusan ESP, FE UNPAD “, 2002
[5] Machfud Sidik, DirJen PKPD-DepKeu RI “ Perimbangangan Keuangan Pusat dan Daerah Sebagai Pelaksanaan desentralisasi Fiskal : Antara Teori dan Aplikasinya di Indonesia “, Yogyakarta, disampaikan dalam Seminar : Setahun Implementasi Kebijaksanaan Otonomi Daerah di Indonesia, 2002.
[6] Makmun, “ Desentralisasi dan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah “, Kajian Ekonomi dan Keuangan Tahun IV No.2, Badan Analisa Keuangan dan Moneter, Departemen Keuangan RI, Juni 2000.
[7] Machfud Sidik, DirJen PKPD-DepKeu RI “ Perimbangangan Keuangan Pusat dan Daerah Sebagai Pelaksanaan desentralisasi Fiskal : Antara Teori dan Aplikasinya di Indonesia “, Yogyakarta, disampaikan dalam Seminar : Setahun Implementasi Kebijaksanaan Otonomi Daerah di Indonesia, 2002.
[8] Teguh Dartanto, “ Ketergantungan Pemerintah Daerah Terhadap Inter-Governmental Transfer di Era Otonomi Daerah “, Depok, disampaikan dalam Workshop Regional Finance kerjasama LPEM FEUI dan KANOPI SMFEUI, Februari 2003.
[9] Michael P. Todaro, “ Pembangunan Ekonomi di dunia Ketiga “, edisi ketujuh, Jakarta, Erlangga, 2000.
[10] J.  Dumairy,  Perekonomian Indonesia,, Penerbit Erlangga, Jakarta
[11] Mohammad Zulfan Tadjoeddin, “ Aspiration to Inequality : Regional Disparity and Centre-Regional Conflicts in Indonesia “,Paper disampaikan pada UNU/WIDER Project Conference on Spatial Inequality in Asia, United Nations University Centre, Tokyo, Maret 2003.
[12] Damodar Gujarati, “Basic Econometrics”, Mc Graw Hill, 2003
READ MORE : FILE ARSIP JURNAL : DOWNLOAD SKRIPSI EKONOMI GRATIS | SKRIPSI LENGKAP SEMUA JURUSAN

Informasi Penting, Harap Di Baca !!!

Sahabat mahasiswa seluruh Indonesia ...
Anda tahu, berdasarkan pengalaman saya pada waktu dulu menyusun skripsi, hal yang menyebabkan tidak kunjung selesai adalah kurangnya bahan referensi. untuk mencari referensi biasanya Anda mengunjungi perpustakaan.
Dan ini masalah terbesarnya. Di Perpustakaan Anda tidak bisa meminjam dalam jumlah yang banyak dan dalam waktu lama. belum lagi Anda harus mengetik ulang. Makan waktu kan ? Karena itu, saya ingin membantu anda. Agar anda mudah menemukan Contoh skripsi yang baik, lengkap, dan terpecaya untuk menyelesaikan tugas akhir anda yang sudah di lengkapi dengan judul skripsi, proposal skripsi, metodologi penelitian, bab I sampai daftar pustaka, semua skripsi dalam format .doc sebagai contoh : Skripsi Gratis.doc.
Apa yang anda dapatkan pada paket Download Skripsi:..
UPDATE BULAN MEI 2012
  1. Anda memiliki banyak sekali pilihan Skripsi FULL CONTENT. Semua skripsi lengkap dari BAB Awal sampai BAB Akhir, Proposal, Kesimpulan, Daftar Pustaka, Lampiran, Hasil Penelitian, Toefl, Jurnal, dan File Bertype .DOC / DOCX (Microsoft Word).
  2. Paket DVD terdiri dari 2 pilihan DVD dan lebih dari 4000 skripsi.
  3. Paket 1 DVD Hanya Rp.100.000-,
  4. paket 2 DVD Hanya Rp.150.000-,
  5. Ratusan skripsi sudah dikelompokkan per Jurusan.
  6. Skripsi Jurusan Komputer dan Skripsi Teknik Informatika, di lengkapi Source Code dan Listing Program.
  7. Skripsi dapat langsung anda kembangkan atau hanya sekedar referensi.
  8. Dan tidak ketinggalan Bonus Premium, Bonus Script Bisnis, dan Tutorial Hacking dapat di download pada halaman Member.
Perhatian: Bonus dan Tutorial tidak ada pada DVD. Jadi, hanya dapat didownload pada halaman member. Dalam DVD hanya Khusus Skripsi.
Pesan Sekarang Juga ..
Dengan memesan sekarang juga, anda akan menghemat banyak uang dan waktu, mendapatkan ribuan skripsi terbaru, Tesis Gratis, dan paling lengkap di Indonesia. Anda mendapatkan Paket DVD dan dapat men-Download Langsung pada halaman download. Pesan sekarang juga..
Hanya Dengan..
Rp. 100.000,-
+ Anda Sudah Bisa Memiliki File Ribuan Skripsi +
Anda Mendapatkan Semua Skripsi Terbaru, FULL Pada Paket 1 DVD! Plus Download Bonus Premium Terlengkap Se-Indonesia!
Kata Kunci Pencarian :

Skripsi, Download Skripsi, Contoh Skripsi, Judul Skripsi, Proposal Skripsi, Tugas Akhir, Tesis Gratis, Skripsi Lengkap, Program Skripsi

Copyright : skripsidownloadgratis.blogspot.com